Sumur Tua

Sumur tua itu jadi saksi…
Saat aku menangis di dekatnya…
Tak ada satu pun yang perduli…
Bahkan tembok pun seakan ikut meledek…
Lihat ku meronta meminta uang jajan…
Sementara ibuku acuh tak memberi…
Lagi… rumput pun menari riang…
Mengolokku yang tak bisa jajan…
Kini aku sudah besar…
Tapi masih saja tak bisa jajan…
Biar kupotong saja rumput itu…
Mungkin yang punya halaman membayarku…
Cukuplah itu untukku jajan…

Silahkan komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s