Terimakasih Kaos Kakiku yang Agak Kumal…

Kaos kakiku yang agak kumal - sumber gambar - Google
Kaos kakiku yang agak kumal – sumber gambar – Google

Kugerakkan kakiku dengan sedikit malas menuju sekolahku, yah aku memang malas untuk berangkat sekolah. Padahal sekolahku termasuk salah satu sekolah elit di Kabupaten Kuningan, SMPN 2 Kuningan, Jawa Barat. Banyaknya siswi cantik pun tiada mampu mengangkat semangatku, apalah dayaku ini yang berbadan gemuk dan tampang pas-pasan.

Bukan hanya itu sebenarnya hal yang membuat aku malas untuk berangkat sekolah, sekawanan berandal di kelasku yang menamakan grup mereka dengan “Jarakaman”, menjadi penyebab utama rasa malasku. Aku memang belum berani untuk melawan mereka berlima, Fata, Rendy, Beni, Topan dan Zian masih terlalu berat untuk aku lawan ketika mereka memaksa meminta uang padaku.

Tiba-tiba langkahku terhenti, kulihat ada seorang siswi perempuan dengan tanda pengenal di lengan baju sebelah kanan yang sama denganku. Rambutnya panjang, diikat kuncir, cantik persis Gita di sinetron Cinta dan Rahasia Season 2. Tampaknya dia sedang kebingungan dengan wajah yang hampir menangis. Antara tertarik untuk mendekat bercampur malu, yang kadarnya kalau diibaratkan lebih malu dari nyanyi di atas panggung, kuberanikan diri bertanya.

“Ke… kenapa neng?” hadeuh… mulut ini memang suka gelagapan bila harus berbicara dengan makhluk yang bernama wanita.

“Aku lupa pake kaos kaki nih Ka… soalnya tadi aku bangun kesiangan, jadinya buru-buru, lupa pake kaos kaki deh. Mana hari ini Upacara lagi, udah pasti aku kena di hukum ke depan lapangan upacara nih,” jawabnya panik.

“Suaramu… sedang panik aja, masih lebih merdu dari suara Anggun C. Sasmi,” batinku sambil garuk-garuk kepala.

“Wah… kebetulan nih neng, aku bawa kaos kaki cadangan.” Kataku sambil menyodorkan kaus kaki putih yang sudah agak kumal kepadanya. Tiap hari Senin, aku pasti selalu bawa kaus kaki cadangan. Geng Jarakaman itu, pasti ada saja salah satu personilnya yang males pake kaos kaki, jadinya pasti meminjam paksa punyaku.

“Alhamdulillah… aku pinjam yah, nanti kita pulang sekolah ketemuan disini buat kembalikan kaos kakimu.” Jawabnya sambil buru-buru memakai kaos kaki yang aku sodorkan.

“Oke, bye…” Katanya lagi, sambil berlari menuju gerbang sekolah yang sudah ramai dengan siswa dan siswi yang hendak upacara bendera.

Aku menatapnya tanpa berkedip, aku bahkan belum tahu namanya. Kejadian yang singkat itu membuat aku kikuk dan lupa untuk baca namanya yang terpampang di atas samping saku bajunya.

Begitu masuk gerbang sekolah, aku tidak langsung ke kelasku, tapi aku titipkan tasku di Kantin Ceu Enah yang tidak jauh dari kelasku. Kalau aku masuk kelasku, dijamin deh aku harus upacara tanpa pake kaos kaki dan kena hukuman dari Pembina OSIS.

Entah kenapa, pertemuan tadi seperti membakar adrenalinku, otakku berfikir luas dan lancar. Rasa malasku hilang, berganti dengan rasa gembira yang belum pernah aku rasakan sebelumnya. Lapangan upacara yang biasanya terlihat membosankan, kini seakan menjadi lapangan konser Edane yang biasa aku tonton di Youtube.

Bel pertanda masuk dan dimulainya upacara terdengar indah di telingaku. Aku pun masuk barisan kelasku, sambil bola mataku berputar ke sekeliling, mencari gadis yang meminjam kaos kakiku. Tapi tiada kutemui dia dalam pandanganku, yang kulihat malah 5 orang personil Geng “Jarakaman” yang terlihat seperti memanggilku.

Aku tak menggubris dan tetap diam di barisanku, persis di belakang barisan wanita. Kebetulan Pembina OSIS ku, Pak Karta sedang keliling di barisanku, jadinya aman deh. Yang ada, Beni malah kena tarik Pak Karta, karena tidak memakai kaos kaki. Beni pun dipisahkan dengan mereka yang senasib kena hukuman, dikarenakan tidak mematuhi peraturan kelengkapan sekolah.

“Hei Kadut…!!!” Bentak Fata yang merupakan pemimpin geng Jarakaman, ketika kami bertemu di kelas. Yah, namaku Raka, mungkin karena aku gemuk, Geng Jarakaman seenaknya saja memanggil aku Kadut, singkatan dari Raka Gendut.

Aku pura-pura tidak mendengar Fata, entah kenapa semenjak bertemu gadis yang meminjam kaos kakiku tadi pagi, keberanianku seakan membuncah. Tak ada rasa takut sedikit pun, yang aku fikirkan adalah bagaimana aku bisa melindungi gadis itu suatu saat, kalau masih takut dengan geng Jarakaman.

“Kadut torek (tuli)… sia ngajak ribut (kamu ngajak berantem : bahasa Sunda kasar)? Apa gak kapok pulang dengan wajah yang semakin chuby?” Sergah Fata sambil menunjuk mukaku.

“Ada apa sih Fat? Baru aja ketemu udah marah-marah,” jawabku kalem.

“Ah… kamu, pura-pura gak tahu, itu si Beni kena hukuman gara-gara gak pake kaos kaki, biasanya kan kamu yang bawa cadangan kaos kaki. Kamu hayang ditampiling (mau ditampar)?” Kali ini Fata sudah mengangkat tangan kanannya untuk menamparku.

Refleks, aku tahan tangan Fata sambil berkata dengan nada agak tinggi : “Gini aja, kita selesaikan berantem satu lawan satu, yang pertama berteriak ampun dia yang kalah. Terus kalau kamu kalah, aku yang menjadi Ketua Geng Jarakaman.”

“Gimana… setuju?” Lanjutku sambil menyodorkan tangan untuk salaman persetujuan kepada Fata.

“Goblog teh… berani sekarang kamu sama aku? Ayo… akan kubuat wajahhmu itu semakin gendut dan berdarah,” jawab Fata sambil salaman dengan penuh keyakinan.

Kami berlima pun bergegas izin ke Satpam untuk keluar, Fata yang memang akrab dengan Satpam sekolah membuat kami bisa keluar sekolah dengan mudah, Fata sering aku lihat memberi rokok sogokkan ke Satpam sekolahku itu.

Geng Jarakaman yang tinggal 4, minus Beni yang sedang dihukum di lapangan upacara, berjalan beriringan di depan. Aku berjalan dengan santai di belakang, sambil mengingat jurus-jurus yang diajarkan kakekku di desa ketika aku terakhir liburan sekolah kemarin. Entah kenapa aku sangat yakin bisa mengalahkan Fata, yang lebih tinggi sekitar sepuluh senti meter dariku.

Ketika sampai pada sebuah ladang yang tidak jauh dari sekolahku, aku dan Fata pun berhadapan sambil mengepalkan tangan dan kuda-kuda, siap untuk bertarung. Rendy jadi wasit, sementara Topan dan Zian menonton di belakang, agak jauh dari Fata.

“Sampai ada yang teriak ampun yah…” Ucap Rendy, lagaknya udah mirip dengan wasit MMA yang kadang aku lihat sekilas di TV.

“Goooo….!!! Teriak keras Rendy menjadi tanda bahwa pertarungan dimulai.

Sesaat aku merasa tegang sekujur tubuh, itu biasa dalam awal sebuah pertarungan. Meskipun aku gemuk, ini yang kesekian kalinya aku berantem, tapi biasanya aku dikeroyok Geng Jarakaman sampai berdarah dan jatuh tak berdaya. Kali ini aku bertarung satu lawan satu, entah ide dari mana, mengalir begitu saja.

Fata yang setiap tiga kali seminggu latihan Karate, mengawali serangan dengan tangannya mengarah percis ke hidungku. Aku mengelak, tetapi tanpa kusadari tendangan susulan Fata tepat mendarat di perutku. Aku pun terjatuh, sementara Rendy, Topan dan Zian bersorak layaknya pendukung setia Fata.

Baru hendak bangun, sebuah pukulan keras mendarat di wajahku, dibawah mata kanan tepatnya. Pukulan seorang murid Karate ini memang bukan pukulan sembarangan, kepalaku sedikit pusing dan wajahku sedikit berdarah. Dan lagi, tendangan keras Fata menghujam pinggang kiriku dan membuatku terhuyung.

Ingin rasanya aku berteriak “ampun” sebagai pertanda aku menyerah kepada Fata, tetapi tiba-tiba aku melihat gadis yang meminjam kaos kakiku sedang menonton pertarunganku dari balik semak-semak. Seketika semangatku seperti terlecut, mirip seperti aku sedang kehausan dan mamaku buatkan Es Milo kesukaanku.

Kali ini Fata menendang sambil setengah terbang, dan ini yang membuatku teringat jurus kakekku, aku tahan dan pegang erat kaki Fata. Kemudian aku gulingkan kaki Fata kesamping, hingga dia terjatuh, kakinya aku pelintir dengan keras. Fata terlihat kesakitan, ini membuat aku semakin semangat untuk menindih badan Fata dengan badanku.

Pukulan bertubi-tubi dariku membuat wajah dan bibir Fata berdarah, dia tidak bisa bergerak lagi karena badannya aku tindih.

“Ampuuuuunnnn…” teriak Fata.

Aku pun melepaskan tindihanku dengan gaya pegulat yang merayakan kemenangan. Yah… lagi-lagi gadis itu membuatku berubah dalam sekejap mata, membuatku meraih kemenangan dalam pertarunganku melawan Fata, ketua Geng Jarakaman yang sebentar lagi lengser dan menyerahkan jabatannya kepadaku.

Topan dan Zian menghampiri Fata, sementara Rendy mengangkat tanganku yang sebelah kanan sambil berteriak :”Dan pemenangnya adalah… Raka, Selamat… kamu sekarang menjadi ketua Geng Jarakaman yang baru. Gimana? Setuju teman-teman?”

“Setuju…” jawab Topan dan Zian, sementara Fata terlihat mengusap darah di wajahnya, tidak mengeluarkan satu katapun. Aku pun resmi menjadi ketua Geng Jarakaman yang baru, buah kecerdasanku yang idenya datang tiba-tiba untuk mengajak Fata bertarung satu lawan satu.

“Oke deh… sebagai ketua kalian yang baru, aku akan ke kelas belakangan yah, kalian duluan aja,” ucapku dengan tegas dan percaya diri. Mereka berempat pun bergegas kembali ke sekolah, sementara aku langsung mendekati semak-semak tempat gadis itu bersembunyi.

“Hai… dirimu gak masuk kelas?” Tanyaku ketika sudah berhadapan dengan dia yang sedang minum Pop Ice dan membawa sebuah buku.

“Kebetulan aku pelajaran Olahraga, gurunya gak datang, jadi aja kelasku bebas. Aku izin keluar dan kesini deh. Aku sering kesini buat sekedar baca kalau kelas lagi bebas.” Jawabnya sambil menyeka lukaku dengan tisu, kemudian dia ambil es batu dari Pop Ice nya, dia tempelkan di bawah mata kananku yang lebam.

Sungguh ini pertama kalinya aku merasakan mendapat perhatian dan perlakuan yang sangat istimewa dari seorang perempuan. Hatiku bergetar tidak karuan, apalagi bila kami beradu pandangan. Sorot matanya yang bening, seakan membawaku untuk cepat dewasa dan mengerti, bahwa itu bukan tatapan biasa.

“Aku Raka…” ucapku sambil menyodorkan tangan, mengajaknya berkenalan.

“Via,” Jawabnya sambil memindahkan es batu ke tangan kirinya dan kemudian bersalaman denganku.

“Makasih yah udah ngobatin aku,” ucapku sambil melihat namanya di atas saku sebelah kanan, namanya Via Setia Hati. “Andai saja dirimu jadi pacarku, pasti aku akan setia deh kepadamu,” batinku.

“Sama-sama, aku yang makasih udah dipinjemin kaos kaki sama ka Raka. Kebayang kalau gak ada kaos kaki punya Ka Raka, mungkin aku sekarang baru selesai menghormat bendera di lapangan.” Jawab Via sambil menyeka lukaku dengan tisu lagi, es batunya sudah habis mencair, seperti suasana kami berdua yang sudah mulai mencair.

Kami tertawa berdua, ngobrolin segala macam, sambil menikmati pemandangan yang indah sampai jam istirahat. Dari situ aku tahu ternyata Via baru kelas VIII, beda satu tahun denganku yang sebentar lagi akan menghadapi Ujian Nasional.

Semenjak itu kami jadi sering bertemu, sering janjian jalan bareng, makan bareng, nonton bareng yang uangnya dari celenganku sejak kecil. Celenganku dengan suka rela aku pecahkan demi Via, gadis cantik yang mirip banget dengan Gita di Sinetron Cinta dan Rahasia Season 2 di Net.TV. Dan yang paling penting kami pun akhirnya jadian sebulan selepas peristiwa peminjaman kaos kakiku yang agak kumal. Terimakasih kaos kakiku yang agak kumal…

Silahkan komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s